Dari Linggajulu ke Philadelpia School: Serma Ulipa Simbolon & Viadya Stella Tololiu Buktikan Sekolah di Karo Bisa Berubah

Tantangan di dunia pendidikan Indonesia masih terasa nyata hingga hari ini. Banyak sekolah masih berjuang menghadapi persoalan mendasar seperti kompetensi guru yang belum optimal, motivasi belajar siswa yang menurun, serta fasilitas fisik yang belum memadai. Dalam kondisi seperti ini, inovasi menjadi harapan sekaligus jalan keluar.
Dua kepala sekolah dari Kabupaten Karo, Sumatera Utara Serma Ulipa Simbolon dari SDN 040470 Linggajulu dan Viadya Stella Tololiu dari SD Philadelpia School menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari satu langkah kecil: keberanian untuk mencoba hal baru.
Awal Perjalanan, Sekolah yang Memprihatinkan
Ketika pertama kali ditempatkan sebagai kepala sekolah di SDN Linggajulu, Serma merasakan sesuatu yang berat. Sekolah itu terlihat terbengkalai tembok kusam, cat mengelupas, fasilitas hampir tidak layak. Bahkan akses air bersih tidak tersedia. Siswa maupun guru terpaksa menumpang kamar mandi warga atau menahan diri selama berada di sekolah.
Belum cukup sampai di situ, kualitas pembelajaran juga mengalami hambatan serius. Banyak guru masih mengajar dengan metode lama, kurang bersemangat, dan cenderung tidak mau berubah. Dampaknya, minat masyarakat menyekolahkan anak mereka ke SDN Linggajulu terus menurun. Pada akhirnya, jumlah siswa tinggal sekitar 90 anak dari kelas 1 sampai 6.
Bahkan beberapa tahun sebelumnya, warga sempat melakukan protes karena kualitas sekolah tidak kunjung meningkat.
Namun alih-alih menyerah, situasi itu justru menjadi titik awal perubahan.
Inovasi Kepemimpinan yang Menggerakkan Desa
Setelah memahami akar masalah, Serma memilih untuk tidak bekerja sendiri. Ia menjalin komunikasi dengan pemerintah desa, mengikuti musyawarah lokal, dan menyampaikan bahwa sekolah bukan hanya ruang belajar—tetapi rumah masa depan generasi desa Linggajulu.
Nada bicaranya yang penuh keyakinan rupanya menyentuh hati masyarakat. Warga mulai terlibat. Sumur bor desa dimanfaatkan untuk instalasi air ke sekolah melalui kerja sama gotong royong. Ruangan diperbaiki, fasilitas dibenahi, dan lingkungan sekolah kembali hidup. Bahkan, gangguan dari pemuda sekitar yang sebelumnya kerap merusak fasilitas kini berhenti setelah ada kesadaran bersama bahwa sekolah adalah milik semua.
Perubahan fisik hanyalah awal. Serma kemudian fokus pada peningkatan kemampuan guru melalui program komunitas belajar yang ia beri nama SABAR — Sabtu Belajar. Para guru berkumpul untuk berdiskusi, berbagi metode, dan mencari solusi bersama.
Pengalaman Serma mengikuti pelatihan dari sebuah lembaga yang berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran menjadi fondasi berharga. Materi mengenai pembelajaran aktif ia bagikan kepada guru dan sekolah lain. Ia percaya, perubahan pola pikir harus dimulai dari ruang kelas.
Dari Game ke Pembelajaran: Terobosan Viadya Stella Tololiu
Sementara itu, di SD Philadelpia School Kabupaten Karo, Kepala Sekolah Viadya Stella Tololiu menemukan tantangan berbeda. Anak-anak di sekolahnya cenderung mudah bosan, terlebih karena mereka lebih akrab dengan video hiburan, ponsel, dan media sosial. Jika pembelajaran tidak mengikuti perkembangan zaman, siswa tak akan merasa tertarik.
Dari sinilah muncul ide Viadya: pembelajaran berbasis permainan atau gamifikasi. Ia menyesuaikan model permainan yang biasa diakses anak-anak menjadi strategi pembelajaran. Mulai dari permainan kompetisi, pengumpulan poin, hingga misi pencarian harta karun yang disesuaikan dengan materi pelajaran.
Metode ini bukan sekadar membuat proses belajar menyenangkan. Siswa lebih aktif, percaya diri, dan termotivasi menyelesaikan tantangan hingga ke level berikutnya. Hasilnya terlihat nyata—laporan nilai siswa meningkat drastis dibanding tahun sebelumnya.
Viadya juga terinspirasi dari pelatihan yang pernah diikutinya. Ia menyadari, guru bukan hanya penyampai materi, tetapi kreator pengalaman belajar.
Dampak yang Mengubah Pandangan Warga
Perlahan namun pasti, perubahan mulai terlihat. Masyarakat yang semula ragu kini kembali percaya. Guru-guru menemukan kembali semangat belajar dan mengajar. Siswa yang awalnya pasif kini berani tampil, bahkan ikut kompetisi dan meraih prestasi.
Atas dedikasinya, Serma meraih penghargaan sebagai Kepala Sekolah Inovatif tingkat provinsi pada kegiatan pendidikan tingkat daerah. Ia menjadi perwakilan Sumatera Utara untuk seleksi penghargaan nasional.
Sementara itu, Viadya terus mengembangkan pembelajaran berbasis permainan di sekolahnya, dan metode tersebut telah diterapkan kepada ratusan siswa.
Membuktikan Bahwa Inovasi Tidak Harus Mahal
Perjalanan dua kepala sekolah ini menunjukkan satu pelajaran penting: perubahan tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Yang dibutuhkan adalah:
✨ Pemimpin yang berani berubah
✨ Guru yang mau belajar kembali
✨ Masyarakat yang mau terlibat
✨ Siswa yang diberi ruang berekspresi
Dengan kombinasi itu, sekolah apa pun bisa berkembang.
Kisah Serma Ulipa Simbolon dan Viadya Stella Tololiu adalah bukti bahwa pendidikan adalah kerja bersama. Ketika sekolah, guru, siswa, dan masyarakat bergerak sebagai satu ekosistem—cita-cita mencerdaskan bangsa bukan sekadar kalimat, melainkan kenyataan yang perlahan diwujudkan, satu langkah demi satu langkah.
Transformasi yang mereka lakukan mengingatkan bahwa sekolah bukan sekadar bangunan, tetapi tempat di mana harapan dilahirkan dan masa depan dibangun.
