Refleksi atas Otobiografi Budi Derita Sinulingga: Jejak Perjuangan, Pendidikan, Pemikiran Pembangunan dan Kebanggaan Putra Karo

buku autobiografi Budi Derita Sinulingga berjudul “Birokrat, Akademisi, dan Pekerja Pelayan Dengan Kerja Keras Semua Bisa” bukan sekadar penerbitan karya pribadi. Acara ini menjadi momentum penting: merayakan 40 tahun pernikahannya bersama Bunda Samaria Br Tarigan, sekaligus menegaskan kehadiran seorang putra Karo yang telah memberi kontribusi nyata dalam pembangunan nasional.
Buku ini bukan hanya catatan perjalanan hidup seorang individu. Ia adalah mosaik sejarah, refleksi perjuangan bangsa, sekaligus penanda bahwa dari lereng Berastagi hingga ruang-ruang strategi nasional, putra Karo telah hadir, bekerja, dan meninggalkan jejak pemikiran.
Nama “Derita” dan Jejak Luka Bangsa
Salah satu bagian paling menyentuh dalam buku ini adalah kisah asal-usul nama “Derita.” Nama yang tidak biasa itu diberikan oleh ayahnya sebagai penanda sejarah: masa-masa sulit ketika keluarganya hidup berpindah dalam pengungsian akibat agresi militer Belanda.
Ia mengingat cerita ibunya tentang bagaimana mereka harus bersembunyi dari serangan pesawat tempur Belanda — pengalaman yang mengukir trauma sekaligus membentuk karakter tangguh dalam dirinya sejak kecil.
Seperti Sukarno, Soeharto, AH Nasution, hingga BJ Habibie, ia merupakan bagian dari generasi yang lahir dari rasa sakit perjuangan, lalu tumbuh menjadi bagian dari proses penyembuhan bangsa.
Dari ITB Hingga Birokrasi: Akademisi yang Dipanggil untuk Mengabdi
Sejak masa kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), beliau bercita-cita menjadi akademisi. Ia pernah menjadi asisten dosen, menulis diktat kuliah, dan menjadi rujukan di berbagai kampus bahkan di luar Pulau Jawa.
Namun takdir membawanya ke arah berbeda: dunia birokrasi. Bukan karena mengejar jabatan, melainkan karena panggilan tanggung jawab.
Walau berada dalam pemerintahan, pemikirannya tetap tajam dan akademis. Integritas dan kerendahan hati menjadi ciri khasnya kualitas yang makin langka dalam birokrasi.
Pemikiran untuk Indonesia: Pertumbuhan Ekonomi Harus Manusiawi
Dalam bukunya, beliau menegaskan:
“Pertumbuhan ekonomi tidak hanya soal angka, tetapi soal manfaat bagi manusia.”
Konsep pembangunan yang ia perjuangkan meliputi:
✔ Mengurangi ketimpangan sosial
✔ Memberikan akses luas pada pendidikan dan kesehatan
✔ Membangun kualitas hidup, bukan hanya mengejar statistik
Pemikiran ini terasa semakin relevan hari ini ketika Indonesia menghadapi kesenjangan ekonomi, urbanisasi tanpa arah, hingga tantangan digitalisasi yang belum merata.
Walaupun banyak pihak menilai beliau layak masuk panggung politik, justru banyak tokoh sepakat: ia lebih dibutuhkan sebagai pemikir dan penuntun bangsa.
Kebanggaan Putra Karo
Sebagai putra Karo, perjalanan hidup Budi Derita Sinulingga menunjukkan bahwa identitas etnis bukan batas, melainkan fondasi. Nilai-nilai ini menjadi warisan budaya yang melekat dalam setiap keputusan dan kiprahnya.
Ia adalah contoh bahwa orang Karo bukan hanya mampu bertani, berdagang, atau membangun dari akar tradisi, tetapi juga berdiri dalam ruang intelektual, birokrasi, dan strategi nasional.
Di tengah arus perubahan zaman, karya seperti ini menjadi pengingat bahwa bangsa tidak hanya dibangun oleh kekuatan politik atau ekonomi, tetapi oleh pemikiran, integritas, dan keberanian untuk mengabdi.
Budi Derita Sinulingga bukan hanya mencatat sejarah hidupnya ia menghidupkan kembali harapan Bahwa dengan kerja keras, kejujuran, dan pelayanan… semua bisa.
📍 Salam hormat untuk seorang putra Karo yang telah ikut membangun Indonesia.