Jualan Online dan Ojek Daring Bukan Aib, Menunggu Sistem yang Macet Justru Berbahaya

Belakangan ini, muncul komentar yang terdengar sepele, tetapi sesungguhnya mencerminkan persoalan besar dalam cara kita memandang kerja. Salah satunya berbunyi kira-kira begini: semoga prestasi dibarengi dengan kemudahan mendapat pekerjaan, jangan sampai berakhir jualan online atau menjadi pengemudi ojek daring, sebab lowongan kerja di negeri ini tidak banyak dibuka.
Kalimat seperti ini sering dianggap wajar. Bahkan terdengar seperti nasihat. Namun di baliknya tersimpan asumsi lama yang semakin tidak relevan dengan kenyataan hari ini.
Pertama, ada anggapan bahwa prestasi akademik adalah tiket otomatis menuju pekerjaan formal yang mapan. Rumus ini mungkin pernah berlaku puluhan tahun lalu, tetapi hari ini sudah runtuh. Jumlah lulusan terus meningkat, sementara lapangan kerja formal tumbuh jauh lebih lambat. Ketimpangan ini bukan kesalahan individu, melainkan persoalan struktural yang tak kunjung diselesaikan.
Ketika pekerjaan formal semakin sempit, anak muda tidak sedang “menghindar”, tetapi menyesuaikan diri. Mereka memilih jalur yang tersedia dan memungkinkan untuk bertahan hidup. Sayangnya, pilihan realistis ini justru sering dipandang sebagai kegagalan.
Kedua, komentar semacam itu memperlihatkan cara pandang yang masih mengkotakkan martabat kerja. Pekerjaan kantoran, pegawai negeri, atau bekerja di perusahaan besar masih dianggap puncak kesuksesan. Sementara kerja mandiri seperti berdagang online, menjadi pengemudi transportasi daring, atau bekerja lepas, ditempatkan sebagai opsi kelas dua.
Padahal, kerja-kerja inilah yang justru nyata, tersedia, dan menyerap jutaan tenaga kerja. Banyak di antaranya menopang ekonomi keluarga, membiayai pendidikan, bahkan menciptakan lapangan kerja baru. Ironisnya, pekerjaan yang benar-benar ada justru diremehkan, sementara pekerjaan “ideal” sering kali hanya hidup di bayangan.
Ketiga, ada kecenderungan menyalahkan individu atas kegagalan sistem. Ketika lowongan kerja terbatas, yang disorot justru pilihan anak mudanya. Seolah-olah masalahnya ada pada keberanian beradaptasi, bukan pada struktur ekonomi yang belum mampu menyediakan ruang kerja yang adil dan luas.
Kita perlu jujur mengakui bahwa dunia kerja telah berubah. Stabilitas tidak lagi selalu datang dari status, melainkan dari kemampuan bertahan, beradaptasi, dan menciptakan nilai. Di titik ini, membandingkan kerja formal dan informal bukan hanya tidak relevan, tetapi juga tidak adil.
Pertanyaan pentingnya bukan lagi bekerja di mana, melainkan apakah seseorang bekerja dengan jujur, mandiri, dan bertanggung jawab. Selama kerja itu halal dan produktif, martabatnya tidak boleh ditakar dari seragam, kartu pegawai, atau jenis platform yang digunakan.
Jika tidak, kita sedang mengajarkan generasi muda satu hal berbahaya: bahwa lebih baik menunggu pekerjaan yang belum tentu ada, daripada bekerja nyata dengan tangan sendiri.
Dan itu bukan nasihat. Itu justru jebakan.