Kibot Mengguncang Adat Karo dan Justru Menyelamatkan Musik Tradisional dari Kepunahan
![]() |
| Dok. Batu Tarigan (Kibot Karo) |
Awal dekade 1990-an menjadi titik balik penting dalam sejarah seni pertunjukan Karo. Alat musik synthesizer yang kemudian akrab disebut kibot mulai masuk ke berbagai acara adat dan hiburan masyarakat. Kehadiran kibot perlahan mengubah suasana pesta guro-guro aron dan perkawinan yang sebelumnya cenderung sunyi pada malam menjelang acara puncak.
Pada masa itu, malam adat biasanya diisi dengan runggu dan persiapan konsumsi tanpa iringan musik. Kibot datang membawa suasana baru. Orang-orang mulai berkumpul, menari, dan bernyanyi tanpa rasa canggung. Dari sinilah perubahan sosial itu dimulai.
Perdebatan langsung muncul di ruang publik. Banyak yang khawatir kibot akan menggeser bahkan menghilangkan musik tradisional Karo. Kekhawatiran itu terdengar masuk akal, tetapi realitas di lapangan justru menunjukkan arah yang berlawanan.
Masalah utama musik tradisional Karo selama bertahun-tahun bukan terletak pada minimnya kecintaan masyarakat, melainkan pada rasa takut. Gendang Lima Sendalanen dipandang terlalu sakral, mahal, dan sulit dipelajari. Akibatnya, banyak orang memilih diam daripada tampil dan berisiko dianggap salah adat.
Kibot memecahkan kebekuan itu. Musik menjadi ruang belajar. Orang berani bergerak, berani bersuara, dan berani tampil di hadapan publik. Dari keberanian itulah bibit-bibit seniman Karo modern tumbuh.
Bukti Nyata Musik Tradisional Karo Tidak Mati
Jika kibot benar-benar merusak tradisi, maka seharusnya hari ini musik Karo tradisional semakin langka. Kenyataannya justru sebaliknya. Jumlah pemain kulcapi, ketteng-ketteng, surdam, gendang singanaki, gung, dan penganak meningkat tajam dibandingkan dekade 1980-an.
Salah satu faktor penting kebangkitan ini adalah ketteng-ketteng. Instrumen bambu ini murah, mudah dibuat, dan mudah dipelajari. Secara struktur musikal, ketteng-ketteng menjadi dasar bagi hampir seluruh sistem bunyi dalam musik Karo. Dari sinilah pemahaman musikal tumbuh secara alami. Pendekatan ini bukan nostalgia, melainkan strategi kebudayaan yang rasional.
Pemikiran tentang kebangkitan musik tradisional Karo tidak berhenti sebagai wacana. Upaya konkret dilakukan dengan membawa seniman Karo tampil di berbagai ruang, termasuk panggung internasional. Ketteng-ketteng diperkenalkan sebagai musik hidup, bukan benda museum.
Respons penonton internasional menunjukkan satu hal yang jelas. Karo memiliki identitas seni yang berbeda dan kuat. Pengalaman itu memicu kebangkitan kelompok-kelompok musik tradisional Karo di berbagai kota, baik di Taneh Karo maupun di perantauan seperti Bandung dan Pekanbaru.
Rabit Dates dan Salah Paham Moral yang Berulang
Perlawanan terhadap perubahan juga terjadi pada busana rabit dates. Busana ini sempat dicap tidak sopan dan dianggap merusak nilai budaya. Namun ketika ditelusuri lebih dalam, para ibu dan tetua justru mengenal rabit dates sebagai bagian dari busana masa muda mereka.
Penolakan yang muncul bukan berasal dari sejarah Karo, melainkan dari rasa malu modern yang terlepas dari ingatan kolektif. Ketika dialog dibuka, nostalgia mengalahkan kecaman. Panggung kembali hidup. Penonton ikut menari. Budaya kembali menemukan rumahnya.
Berpikir positif dalam kerja budaya bukan berarti menghindari konflik. Justru sebaliknya. Berpikir positif berarti siap dicaci, disalahpahami, dan tetap berjalan. Kerja kebudayaan menuntut pengorbanan perasaan, waktu, dan reputasi.
Mereka yang hanya mencibir dari kejauhan sering kali tidak pernah menyentuh kerja nyata di lapangan. Budaya tidak bergerak oleh perintah, tetapi oleh tindakan.
Pengalaman kibot, ketteng-ketteng, dan rabit dates membuktikan satu prinsip utama. Tradisi tidak bertahan karena dikunci, tetapi karena dipakai dan diwariskan secara aktif.
Tidak ada pertarungan mutlak antara yang lama dan yang baru. Yang ada hanyalah keberanian untuk belajar dan kesediaan untuk berkorban demi masa depan budaya.
