Cerita Rakyat Karo: Senggulat Mbacang Erbahan Sirang dan Makna Budaya yang Terlupakan

Oleh: Pulumun P. Ginting dan Fitra Ananta Sujawoto
“Baling-baling bambuuuu…”
Penggalan kata dari film kartun Doraemon ini terasa begitu lekat dalam ingatan. Tayangan yang selama bertahun-tahun menemani pagi hari itu bukan sekadar hiburan, tetapi juga membangun imajinasi tentang masa depan tentang teknologi, mimpi, dan kemungkinan.
Menariknya, apa yang dahulu tampak sebagai khayalan kini menjadi kenyataan di Jepang sebuah negara yang berhasil menjelma menjadi kekuatan teknologi dunia. Di sinilah letak kekuatan sebuah cerita: mampu menanamkan mimpi dan membentuk arah peradaban.
Indonesia sejatinya tidak kekurangan cerita. Kekayaan cerita rakyat tersebar di berbagai daerah, termasuk dari masyarakat Karo. Namun, perlahan, cerita-cerita tersebut tenggelam oleh arus penceritaan modern seperti sinetron dan film. Salah satu yang mulai jarang terdengar adalah cerita rakyat Karo Senggulat Mbacang Erbahan Sirang, sebuah kisah yang sarat nilai moral, harapan, dan identitas budaya.
Cerita Rakyat sebagai Cermin Imajinasi dan Nilai Budaya
Cerita rakyat bukan sekadar dongeng. Ia merupakan produk imajinasi kolektif yang disampaikan melalui bahasa penuh makna. Di dalamnya tersimpan simbol, pesan, dan nilai yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam dunia cerita rakyat, batas logika sering kali dilampaui. Kisah-kisah seperti kancil yang menipu buaya, legenda Pawang Ternalem, hingga berbagai mitos lokal menjadi bukti bahwa imajinasi manusia memiliki kebebasan mutlak.
Namun, di balik hal-hal yang tampak tidak masuk akal, justru tersimpan pesan mendalam tentang kehidupan, moralitas, dan cara pandang suatu masyarakat terhadap dunia.
Makna Mendalam dalam Senggulat Mbacang Erbahan Sirang
Salah satu kutipan penting dalam cerita ini berbunyi:
“Adi lit sada tersembelah kita nindu, njanah adi lit dua nonggal sada kita. Bage kal nindu ndube impal.”
Maknanya sederhana namun kuat: tentang berbagi, kesetiaan, dan janji.
Cerita ini mengisahkan hubungan antara Rudang Bulan, seorang putri dari Kerajaan Kepultakeen, dengan Tare Iluh, seorang pemuda yatim. Kisah cinta tersebut bukan sekadar romantisme, melainkan refleksi nilai sosial seperti komitmen, pengorbanan, hingga tanggung jawab terhadap janji yang diucapkan.
Dialog dalam cerita bahkan disampaikan dengan irama khas katoneng-toneng, memperkuat nuansa budaya yang kental.
Di dalamnya juga terselip berbagai aspek kehidupan masyarakat Karo, seperti:
Sistem perjodohan
Hak waris
Regenerasi sosial
Struktur adat dan norma
Semua itu menjadikan cerita ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga dokumen budaya.
Ancaman Globalisasi terhadap Cerita Rakyat
Sayangnya, keberadaan cerita rakyat seperti Senggulat Mbacang Erbahan Sirang semakin terpinggirkan. Arus globalisasi melalui sinetron, film, dan media digital telah mengubah pola konsumsi masyarakat terhadap cerita.
Cerita-cerita modern cenderung hadir dengan gaya hidup instan, konflik berlebihan, dan nilai yang tidak selalu selaras dengan budaya lokal. Dalam banyak kasus, masyarakat justru lebih akrab dengan kisah fiktif di layar dibanding warisan budayanya sendiri.
Fenomena ini sejalan dengan konsep simulakra dari Jean Baudrillard, di mana batas antara realitas dan representasi menjadi kabur. Cerita dalam media tidak lagi sekadar hiburan, tetapi membentuk persepsi realitas itu sendiri.
Dominasi Film Horor dan Reduksi Makna Cerita Rakyat
Di sisi lain, industri film Indonesia mengalami peningkatan. Namun, sebagian besar adaptasi cerita rakyat justru didominasi genre horor, mengangkat sosok seperti kuntilanak, pocong, dan berbagai entitas mistis lainnya.
Menurut Albert Moran dalam kajian film, terdapat dua dimensi utama:
Dimensi material (komersial)
Dimensi kultural (representasi budaya)
Ketika cerita rakyat lebih banyak diadaptasi menjadi horor, maka nilai budaya yang seharusnya membangun harapan justru direduksi menjadi ketakutan.
Pertanyaannya: bagaimana sebuah bangsa bisa berkembang jika imajinasinya lebih banyak diisi rasa takut daripada harapan?
Menghidupkan Kembali Cerita Rakyat sebagai Identitas Bangsa
Cerita rakyat seharusnya tidak berhenti sebagai narasi masa lalu. Ia perlu dihidupkan kembali dalam berbagai bentuk, baik tulisan, film, musik, maupun media digital, tanpa kehilangan esensi nilai yang dikandungnya.
Senggulat Mbacang Erbahan Sirang adalah contoh bahwa cerita lokal memiliki potensi besar untuk menjadi sumber inspirasi budaya dan peradaban.
Lebih dari sekadar hiburan, cerita rakyat adalah:
Sumber nilai moral
Cerminan identitas budaya
Fondasi imajinasi kolektif bangsa
Sinetron dan film boleh saja menjadi konsumsi sehari-hari. Namun, akar nilai, harapan, dan mimpi sebuah bangsa tetap harus bertumpu pada cerita-cerita yang lahir dari tanahnya sendiri.
Catatan: Penulis juga telah menggubah cerita Senggulat Mbacang Erbahan Sirang ke dalam bentuk komposisi musik sebagai upaya pelestarian budaya.