Widget HTML #1

Kerja Sama Nuklir RI–AS–Jepang di Kalbar Masih Tahap Desain, Proyek PLTN Belum Dimulai

Rencana kerja sama antara Indonesia, Amerika Serikat, dan Jepang dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Kalimantan Barat (Kalbar) dipastikan masih berada pada tahap awal. Proyek tersebut belum memasuki fase konstruksi, melainkan baru sebatas perencanaan teknis melalui tahap front end engineering design (FEED).

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, menegaskan bahwa kesepakatan yang tertuang dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat hanya mencakup studi desain awal, bukan penunjukan langsung pelaksana proyek.

“Ini masih tahap studi, sampai pada desain. Siapa yang nanti melaksanakan proyeknya belum ditentukan dan bisa saja berasal dari pihak mana pun,” ujar Satya dalam forum Workshop on Small Modular Reactor Deployment Considerations for Indonesia, Selasa (3/3/2026).

Fokus Awal: Studi dan Desain, Bukan Proyek

Meski sebelumnya perusahaan asal Amerika Serikat, NuScale Power, telah menjalin kerja sama dengan PT PLN (Persero), posisi perusahaan tersebut belum otomatis menjadi operator proyek reaktor nuklir mini atau small modular reactor (SMR).

Menurut Satya, keterlibatan pihak asing saat ini lebih kepada penyediaan konsep, desain, dan transfer pengetahuan. Bahkan, inisiatif workshop pengembangan SMR yang digelar juga merupakan bagian dari upaya memperkaya kajian teknis, bukan langkah menuju pembangunan langsung.

“Ini belum proyek. Kedutaan Besar Amerika dan Jepang menawarkan diskusi dan paparan dari para ahli mereka untuk mendukung studi Indonesia,” katanya.

SMR Jadi Fokus Strategis Energi Masa Depan

Dalam dokumen resmi yang dirilis pemerintah Amerika Serikat, Indonesia memang menyatakan komitmennya untuk menjajaki pengembangan reaktor modular kecil melalui skema kemitraan publik-swasta modern.

Pendekatan ini dinilai lebih fleksibel dibandingkan PLTN konvensional, terutama karena ukuran yang lebih kecil dan waktu pembangunan yang relatif singkat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya mengungkapkan bahwa studi kelayakan proyek SMR telah rampung. Pemerintah kini tengah menyiapkan tahap berikutnya, termasuk aspek perizinan konstruksi.

“Feasibility study sudah selesai. Sekarang masuk tahap persiapan izin pembangunan,” ujar Airlangga dalam forum energi nasional.

Kapasitas Bertahap, Waktu Lebih Cepat

Berbeda dengan PLTN konvensional yang membutuhkan waktu hingga 7–8 tahun, SMR diproyeksikan dapat beroperasi dalam waktu lebih singkat, sekitar 4 tahun sejak konstruksi dimulai.

Kapasitas awal diperkirakan sebesar 70 megawatt (MW), dengan kemungkinan pengembangan modular hingga mencapai 220 MW secara bertahap.

Konsep ini memungkinkan penambahan kapasitas seperti sistem “cartridge”, yang dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan energi nasional.

Target Operasi Mundur, PLN Bidik 2032

Meski kajian terus berjalan, pemerintah memastikan bahwa proyek ini belum akan beroperasi dalam waktu dekat. Target operasional komersial (commercial operation date/COD) baru dipatok sekitar tahun 2032.

Dengan demikian, rencana awal yang sempat diperkirakan berjalan sebelum 2030 kini dipastikan mengalami penyesuaian.

Potensi Besar Energi Nuklir di Indonesia

Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar dalam pengembangan energi nuklir. Berdasarkan kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan lembaga terkait, terdapat 28 lokasi potensial untuk pembangunan PLTN di berbagai wilayah.

Total kapasitas yang dapat dikembangkan bahkan diperkirakan mencapai 70 gigawatt (GW), menjadikan nuklir sebagai salah satu opsi strategis dalam transisi energi nasional.

Antara Ambisi Energi dan Realitas Tahapan

Kerja sama dengan Amerika Serikat dan Jepang menunjukkan keseriusan Indonesia dalam mengeksplorasi energi nuklir sebagai sumber listrik masa depan. Namun, tahapan yang masih berada di level desain menegaskan bahwa proyek ini belum memasuki fase implementasi.

Ke depan, keputusan terkait teknologi, investor, hingga operator akan sangat bergantung pada hasil studi, kesiapan regulasi, serta penerimaan publik terhadap energi nuklir.

Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat, proyek SMR di Kalimantan Barat menjadi salah satu langkah awal menuju diversifikasi energi nasional meski jalannya masih panjang dan penuh pertimbangan strategis.